Penolakan Memuncak, Warga Marga Kencana Ultimatum Penutupan Permanen Karaoke Diva
Tulang Bawang Barat, lingkarmerah.my.id – Kesabaran warga Tiyuh Marga Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Udik, tampaknya telah mencapai batas. Penolakan terhadap operasional Karaoke Diva kini berubah menjadi tuntutan tegas: tutup permanen, tanpa kompromi.
Pada Minggu malam (12/4/2026), puluhan warga menggelar rapat terbuka di rumah Ketua RK setempat. Hadirnya Kepalo Tiyuh, ketua RT, Babinsa, hingga Bhabinkamtibmas menegaskan bahwa persoalan ini bukan lagi keluhan biasa, melainkan konflik sosial yang berpotensi membesar jika terus diabaikan.
Dalam forum tersebut, warga secara lugas membantah tudingan adanya “aktor” di balik gelombang penolakan. Mereka menegaskan, penolakan lahir dari keresahan nyata yang dirasakan sehari-hari—terutama oleh warga di RK 05 yang mengaku paling terdampak.
Kepalo Tiyuh Marga Kencana, Supriyadi, S.Sos, yang sebelumnya sempat menduga adanya kepentingan lain, akhirnya dihadapkan pada fakta di lapangan: penolakan ini adalah suara kolektif warga yang tak lagi bisa dipatahkan.
Desakan warga bukan tanpa dasar. Mereka telah menuangkannya secara resmi dalam Surat Penolakan Masyarakat, yang berisi tuntutan agar Karaoke Diva dihentikan total dari lingkungan RT 22 RW 05 (RT 14 RW 04 alamat baru).
Sejumlah pelanggaran disorot. Kebisingan yang merusak ketenangan malam, dugaan keributan hingga perkelahian, serta jam operasional yang disebut melampaui batas—berjalan hingga dini hari, bahkan tetap beroperasi di bulan Ramadan.
Lebih jauh, warga juga menyoroti aktivitas pemandu lagu yang kerap keluar dari lokasi usaha dan berkeliaran di lingkungan permukiman pada malam hari. Kondisi ini dinilai bukan hanya mengganggu, tetapi juga merusak rasa aman masyarakat.
Tekanan pun diarahkan kepada aparat penegak hukum dan Satpol PP. Warga menilai, selama ini belum ada tindakan tegas yang benar-benar memberikan efek jera. Mereka mendesak penertiban nyata, bahkan jika perlu pemasangan garis larangan operasional.
Tak hanya itu, kritik keras juga dilayangkan kepada pemerintah tiyuh dan aparat lingkungan. Respons yang dinilai lamban dan tidak tegas membuat persoalan ini berlarut-larut tanpa kepastian.
“Kami sudah terlalu lama bersabar. Jangan sampai kami yang harus mengambil langkah sendiri karena tidak ada tindakan dari pihak berwenang,” tegas salah satu warga dalam rapat tersebut.
Pernyataan itu menjadi sinyal kuat: potensi gesekan sosial terbuka lebar jika tuntutan warga terus diabaikan.
Sebagai langkah lanjutan, warga mendesak Kepalo Tiyuh segera melaporkan persoalan ini ke tingkat kecamatan dan dinas terkait, agar tidak lagi berhenti pada rapat-rapat tanpa hasil.
Sikap warga kini bulat dan tak bisa ditawar: Karaoke Diva harus ditutup permanen.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola Karaoke Diva belum memberikan tanggapan resmi. Sementara itu, pemerintah daerah dituntut segera bertindak sebelum situasi berkembang menjadi konflik yang lebih luas dan sulit dikendalikan. (PD/Imam).






