Jalan Rusak Telan Nyawa, Warga Panaragan Jaya Turun Tambal Jalan Sendiri, Pejabat Disebut Tak Tampak di Rumah Duka

TULANG BAWANG BARAT, Lingkarmerah.my.id – Jalan rusak di Kabupaten Tulang Bawang Barat kembali memakan korban jiwa. Tragisnya, setelah nyawa melayang, warga justru harus turun tangan sendiri menambal jalan berlubang secara swadaya, sementara pejabat pemerintah disebut tak tampak hadir bahkan sekadar melayat ke rumah duka.

Korban diketahui bernama Karim, warga Bujung Tenuk RK 2 RT 2, Menggala Selatan, Kabupaten Tulang Bawang, yang berdomisili di Tiyuh Gunung Katun Malay, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Tubaba. Ia meninggal dunia usai mengalami kecelakaan tunggal yang diduga dipicu jalan berlubang di depan PONED Panaragan Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kamis (28/5/2026).

Suasana pilu menyelimuti rumah duka saat prosesi pemakaman berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB. Tangis keluarga pecah mengiringi kepergian korban yang diduga menjadi korban kelalaian infrastruktur jalan yang selama ini dibiarkan rusak.

Kepalo Tiyuh Gunung Katun Malay, Saidan, membenarkan prosesi pemakaman tersebut. Namun ia menyebut tidak melihat adanya pejabat pemerintah daerah maupun pihak kecamatan yang datang melayat.

“Warga ramai hadir. Tapi kalau pejabat pemerintah atau dari kecamatan, setahu saya tidak terlihat datang,” ujar Saidan.

Ia juga mengungkapkan kondisi keluarga korban masih sangat terpukul, terutama anak korban yang ikut mengazankan sang ayah di pemakaman. “Anaknya tadi ikut mengazankan ayahnya di kuburan. Kondisinya tentu masih trauma dan sangat memprihatinkan,” katanya.

Sementara itu, pihak Satlantas Polres Tubaba disebut sudah mendatangi keluarga korban untuk melakukan pendataan administrasi.
“Dari pihak lantas, Pak Sukiman sudah meminta data seperti KTP dan KK almarhum,” tambah Saidan.

Peristiwa maut tersebut memantik kemarahan dan kepedulian warga. Sehari setelah kecelakaan terjadi, masyarakat bersama aparatur Kelurahan Panaragan Jaya turun langsung melakukan penambalan jalan berlubang di lokasi kejadian. Dengan dana patungan, warga membeli batu, pasir, dan semen untuk menutup lubang-lubang jalan yang selama ini dikeluhkan pengguna jalan.

Penambalan dilakukan di sejumlah titik dengan panjang diperkirakan mencapai sekitar satu kilometer. Ironisnya, tindakan cepat justru datang dari masyarakat, bukan dari pihak yang memiliki kewenangan dan anggaran.

Lurah Panaragan Jaya, Sar’aini, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap keselamatan warga.

“Ini murni inisiatif kami bersama warga. Kami patungan membeli material dan dikerjakan gotong royong. Saya juga menghubungi beberapa toko bangunan agar ikut membantu dan mereka bersedia,” ujar Sar’aini.

Menurutnya, jalan tersebut merupakan akses utama masyarakat yang setiap hari dilalui warga. “Ini jalan yang setiap hari kami lewati. Jadi kami bergerak karena memang kondisinya membahayakan,” lanjutnya.

Namun aksi gotong royong warga itu justru memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Ke mana pemerintah selama ini ketika jalan rusak bertahun-tahun dikeluhkan warga? Mengapa perbaikan baru dilakukan setelah nyawa melayang?

“Kalau warga saja bisa cepat bergerak menutup lubang jalan dengan dana swadaya, lalu di mana pihak yang punya anggaran dan kewenangan?” ujar salah seorang warga dengan nada kesal.

Warga menilai kerusakan jalan bukan lagi sekadar persoalan pembangunan, melainkan ancaman nyata yang bisa merenggut nyawa kapan saja.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari instansi terkait mengenai perbaikan permanen jalan tersebut maupun tanggung jawab atas kondisi jalan rusak yang diduga menjadi penyebab kecelakaan maut itu.

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah bahwa kelalaian terhadap infrastruktur bukan hanya soal jalan berlubang, tetapi soal keselamatan dan nyawa masyarakat.
(PD)