Ketua Proyek Jembatan dan Pembangunan Gedung Balai Pertemuan Desa Muara Pari, Angkat Bicara terkait dengan Progres PekrerjaanNya
Barito Utara, Lingkarmerah.My.id – BeredarNya issu dan pemberitaan yang menyebutkan sejumlah pembangunan Proyek mangkrak di Desa Muara Pari, Kecamatan Lahei,Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah.
Ketua Pekerja proyek jembatan di jalan Meranti RT.03, Supriyansah yang akrab disapa Supi atau Pi, memberikan klarifikasi bahwa pekerjaan tersebut tidak berhenti, tapi masih dalam proses sesuai prosedur teknis.
Klarifikasi tersebut langsung dijelaskan oleh Supriyansah saat ditemui di lokasi pekerjaan, pada Senin (16/03/2026).
Supi mengatakan bahwa pekerjaan jembatan yang memiliki panjang 165 meter dan lebar 4 meter tersebut berada dilokasi rawa, dikerjakan menggunakan anggaran yang bersumber dari Alokasi dana desa tahun 2025 dan 2026. Sesuai dengan tahapan dan menggunakan kontruksi beton sehingga membutuhkan waktu pengerjaan dan pengeringan yang cukup lama.
Menurutnya, anggapan bahwa proyek tersebut mangkrak merupakan kesalah pahaman yang muncul karena adanya masyarakat yang tidak mengetahui secara detail tahapan pekerjaan kontruksi beton yang sedang berjalan.
“Saya sangat keberatan jika pekerjaan ini disebut mangkrak. Pekerjaan tetap berjalan, namun karena menggunakan kontruksi beton maka harus menunggu masa pengeringan agar hasilnya kuat dan tidak mudah rusak, ” jelas Supriansyah.
Dia juga menerangkan bahwa dalam pekerjaan kontruksi beton terdapat prosedur teknis yang harus diikuti, termasuk masa pengeringan yang bisa memakan waktu hingga satu atau dua bulan sebelum pekerjaan dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Selain itu kendala yang dihadapi adalah akses pengangkutan material menuju lokasi proyek yang cukup sulit, mengingat Desa Muara Pari berada sekitar 11 kilometer dari jalan hauling PT. Tamtama. Dengan medan jalan yang cukup ekstrim apalagi pada kondisi musim penghujan.
“Material cukup sulit naik ke lokasi, jadi kami harus menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Semua pekerjaan tetap mengikuti prosedur teknis agar hasil maksimal,” katanya.
“Kami tidak terburu – buru dalam pekerjaan seperti ini. Kalau dipaksakan cepat tanpa mengikuti prosedur justeru bisa beresiko rusak dan harus diperbaiki lagi,” ujarnya lagi.
Ia berharap masyarakat dapat memahami kondisi teknis dilapangan serta tidak terburu – buru menyimpulkan bawah proyek tersebut mangkrak sebelum melihat langsung proses pekerjaan yang sedang berlangsung.
“Kami berharap masyarakat bisa langsung ke lapangan. Pekerjaan tetap berjalan dan kami berupaya menyelesaikan dengan baik sesuai aturan yang berlaku, ” pungkas Supriyansah.
Sementara itu,terkait dengan Pembangunan di Balai Pertemuan Desa Muara Pari, Mardi sebagai pengelola pembangunan saat ditemui dilokasi pekerjaan, pada Senin (16/03/2026).
Dia menjelaskan bahwa proses pembangunan sampai saat ini masih berjalan dan bahkan memasuki tahap akhir.
Menurutnya, foto yang beredar dan disebut sebagai bukti bangunan terbengkalai merupakan dokumentasi foto lama yang diambil sebelum proses tahapan pengerjaan berlangsung.
“Informasi yang beredar itu tidak benar.
Pembangunan masih berjalan dan saat ini sudah hampir selesai. Foto yang beredar itu foto lama sebelum pekerjaan dilaksanakan, ” jelas Mardi.
“Kami menargetkan pembangunan ini selesai dalam waktu dekat sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat sebelum idul Fitri, “tambahnya.
Mardi juga meminta kepada semua pihak agar tidak menyebarkan informasi yang berlebihan atau tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Ia berharap masyarakat ataupun pihak lain dapat melihat langsung perkembangan pembangunan yang saat ini hampir selesai dikerjakan.
“Kami berharap tidak ada pihak yang sengaja melebih – lebihkan kejadian ini.
Pekerjaan masih berjalan dan segera selesai, “tegasnya.
Sebelumnya muncul informasi yang menyebutkan sejumlah pembangunan di Desa Muara Pari, termasuk Balai Pertemuan Desa dan Jembatan rawa-rawa di jalan Meranti RT.03 tersebut belum selesai bahkan dinilai mangkrak.
Fakta lapangan dengan kondisi jalan menuju Desa Muara Pari yang ekstrim, sehingga menyulitkan angkutan material pembangunan. Sesuai dengan kondisi jalan, sehingga mobil operasional Pemerintah Desa yang dimiliki juga harus mobil memiliki double gardan, sejenis Mobil Hi Lux atau Mobil Strada Tryton.
Pemerintah Desa Muara Pari menjamin bahwa pekerjaan akan diselesaikan dalam waktu dekat. Sesuai dengan ekspektasi dan rencana anggaran.(Rizal)






