Baru Direhab Rp1,9 Miliar, Gedung Sesat Agung Tubaba Sudah Bocor Lagi: Proyek Asal Jadi?

Tulang Bawang Barat, lingkarmerah.my.id – Proyek rehabilitasi bernilai miliaran rupiah di Kabupaten Tulang Bawang Barat kembali memantik kemarahan publik. Gedung Sesat Agung yang berada di kawasan Islamic Center, Kelurahan Panaragan Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, dilaporkan kembali bocor saat hujan turun—ironisnya, tak lama setelah proyek perawatannya rampung.

Anggaran yang digelontorkan tidak kecil: Rp1.985.016.000. Namun hasil di lapangan justru berbanding terbalik. Air hujan disebut masuk deras dari atap, menetes dari plafon, hingga membuat bagian dalam gedung tak lagi layak digunakan saat hujan mengguyur.

Pantauan di lokasi, Selasa (21/4/2026), menunjukkan kebocoran terjadi di berbagai titik. Air jatuh tanpa kendali dari langit-langit, memperlihatkan buruknya kualitas pekerjaan yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam proyek bernilai jumbo tersebut.

“Ini bukan sekadar bocor, ini seperti tidak pernah diperbaiki. Uang hampir Rp2 miliar, tapi hasilnya seperti ini?” kata seorang warga dengan nada geram.

Situasi ini memunculkan dugaan keras: proyek dikerjakan asal jadi. Publik kini menyoroti kemungkinan lemahnya pengawasan, penggunaan material di bawah standar, hingga potensi penyimpangan dalam pelaksanaan pekerjaan.

Data yang dihimpun menyebutkan proyek tersebut menggunakan Nomor Kontrak 600/31/KONTRAK/DPUPR/TUBABA/IX/2025, dengan pelaksana CV Aruwana Karya Abadi. Namun hingga kini, belum ada penjelasan terbuka mengenai spesifikasi pekerjaan maupun standar kualitas yang digunakan.

Jika benar gedung sudah kembali bocor dalam waktu singkat, maka ini bukan sekadar cacat teknis—melainkan alarm keras atas buruknya tata kelola proyek publik. Pertanyaannya: ke mana larinya anggaran miliaran rupiah itu?

Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Tulang Bawang Barat belum memberikan keterangan resmi. Sikap bungkam ini justru mempertebal kecurigaan publik.

Masyarakat kini menuntut lebih dari sekadar klarifikasi. Audit menyeluruh, pembongkaran hasil pekerjaan jika terbukti cacat, hingga penelusuran aliran anggaran menjadi langkah mendesak. Jika tidak, proyek publik hanya akan terus menjadi ladang pemborosan uang rakyat tanpa pertanggungjawaban. (PD/imam).