Diduga Cemari Lingkungan, Pengelolaan Limbah Dapur MBG Kagungan Ratu Disorot Warga
Tulang Bawang Barat, lingkarmerah.my.id – Pengelolaan limbah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tiyuh Kagungan Ratu, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat, menuai sorotan tajam dari warga. Limbah cair dapur diduga dialirkan langsung ke sungai kecil melalui pipa paralon tanpa sistem pengolahan yang memadai, sehingga memicu kekhawatiran akan potensi pencemaran lingkungan.
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan limbah hanya ditampung di kolam darurat tanpa dinding permanen serta tanpa lapisan pengaman. Kondisi tersebut dinilai berisiko tinggi, terutama saat hujan turun dan debit air meningkat, karena kolam berpotensi meluap dan mengalirkan limbah langsung ke badan sungai.
Ironisnya, sistem pembuangan limbah tersebut diduga telah beroperasi tanpa kejelasan izin resmi. Asisten lapangan MBG Kagungan Ratu, Febri, mengklaim pembuangan limbah telah mendapatkan izin dari pemilik lahan.
“Kami sudah dibolehkan membuang ke embung. Izin dari pemilik rumah. Untuk urusan tanah dan sewa, kepala dapur yang lebih tahu,” ujar Febri.
Namun pernyataan tersebut dibantah oleh Jono, pemilik lahan yang dilalui pipa paralon limbah yang tertanam di dalam tanah miliknya.
“Paralon itu lewat tanah saya, di batas kebun sawit. Tidak ada izin pemasangan. Saya baru tahu kemarin. Sebelumnya tidak pernah ada pemberitahuan,” tegas Jono.
Perbedaan keterangan ini menimbulkan pertanyaan mengenai legalitas pemasangan saluran limbah serta pihak yang memberikan izin.
Selain persoalan limbah, isu tenaga kerja MBG Kagungan Ratu juga menjadi sorotan. Febri menyebut sebagian besar pekerja berasal dari warga setempat, meskipun mengakui ada tenaga kerja dari luar tiyuh.
“Warga Kagungan Ratu ada, tapi karena tidak cukup, kami ambil dua orang dari Karta Raharja,” katanya.
Namun keterangan tersebut kembali berbeda dengan pengakuan seorang karyawan MBG bagian pengantar ompreng yang enggan disebutkan namanya. Ia menyebut jumlah pekerja dari luar tiyuh mencapai tujuh orang.
“Yang dari luar tiyuh ada tujuh. Kendaraan juga masih pakai Kijang dan Xenia, belum kendaraan khusus MBG,” ungkapnya.
Kejanggalan lain terungkap saat tim media mendatangi lokasi MBG Kagungan Ratu. Asisten lapangan tidak berada di tempat dengan alasan sedang ke Tiyuh Daya Murni. Media justru ditemui seorang pria yang mengaku sebagai satpam atau penjaga malam.
“Saya orang Gunung Batin,” ucapnya singkat.
Pengakuan tersebut memunculkan pertanyaan baru, mengingat yang bersangkutan bukan warga Tiyuh Kagungan Ratu, bahkan disebut berasal dari luar Kabupaten Tulang Bawang Barat. Hal ini bertolak belakang dengan klaim bahwa pengamanan melibatkan warga lokal.
Dampak limbah juga disebut telah dirasakan warga. Salah seorang warga mengaku tanaman lumut miliknya mati total setelah terkena aliran air dari saluran limbah tersebut, sehingga memperkuat dugaan bahwa limbah tidak dikelola sesuai standar lingkungan.
Sementara itu, terkait armada angkutan, Febri menegaskan seluruh kendaraan operasional telah diperiksa oleh Dinas Kesehatan Provinsi Lampung.
“Mobil memang masih sewa, tapi sudah dicek semua. Tidak berbau, tidak membawa barang terlarang. Sertifikat halal juga sudah keluar,” jelasnya.
Meski demikian, rangkaian temuan di lapangan, perbedaan keterangan antar pihak, serta indikasi dampak lingkungan memicu keresahan masyarakat. Warga mendesak Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah daerah, dan instansi terkait segera turun tangan melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk menelusuri legalitas perizinan, sistem pengolahan limbah, serta dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
Warga khawatir, apabila tidak segera ditangani, dugaan pencemaran tersebut dapat berkembang menjadi masalah lingkungan yang lebih serius dan berkepanjangan. (Pedia HT/Imam).






